Siswi SD di Karawang Dibully hingga Patah Tulang, DPRD Desak Sekolah Perketat Pengawasan
Jangkauan Jakarta barat – Siswi SD di Karawang Kasus perundungan kembali terjadi di lingkungan sekolah dasar. Kali ini, seorang siswi SD di Karawang mengalami kejadian tragis setelah dibully oleh teman sekelasnya hingga mengalami patah tulang di bagian bahu. Insiden ini memicu kekhawatiran publik dan mendapat perhatian serius dari DPRD Karawang, yang meminta sekolah memperketat pengawasan terhadap siswa.
Kronologi Kejadian
Menurut keterangan keluarga, korban awalnya pulang sekolah sambil mengeluh kesakitan. Setelah diperiksa di rumah sakit, dokter memastikan bahwa korban mengalami patah tulang akibat tekanan atau hentakan keras.
Pihak keluarga kemudian menerangkan bahwa korban dipukul dan ditarik secara kasar oleh beberapa siswa lain sebelum jatuh. Kejadian itu berlangsung di area sekolah yang seharusnya aman bagi anak-anak.
Ibu korban mengatakan, “Kami tidak menyangka anak kami mengalami kekerasan di sekolah. Kami ingin kejadian ini diusut agar tidak terulang.”
Baca Juga: Rano Karno Pastikan Revitalisasi Kota Tua Rampung sebelum MRT Beroperasi pada 2029
Respons DPRD Karawang
Ketua Komisi Pendidikan DPRD Karawang mengecam keras kejadian tersebut dan menilai bahwa peristiwa ini merupakan tanda bahwa pengawasan sekolah masih sangat lemah, terutama saat jam istirahat atau pergantian pelajaran.
Beberapa poin tuntutan DPRD kepada sekolah dan Dinas Pendidikan antara lain:
Meningkatkan jumlah guru piket di area rawan perundungan.
Memberikan pendampingan psikologis baik kepada korban maupun siswa lain.
Menegakkan disiplin dan aturan anti-bullying secara tegas.
Memperbaiki SOP penanganan kekerasan di sekolah, termasuk kewajiban melapor kepada orang tua dan pihak terkait.
“Sekolah harus jadi tempat aman. Kalau anak SD bisa dibully sampai patah tulang, ini sudah darurat pengawasan,” tegas salah satu anggota DPRD.
Siswi SD di Karawang Sikap Sekolah dan Dinas Pendidikan
Pihak sekolah mengakui adanya unsur kelalaian dan berjanji meningkatkan pengawasan. Beberapa langkah awal yang dilakukan:
Memanggil orang tua siswa terlibat.
Melakukan pemeriksaan internal.
Menempatkan petugas tambahan di area terbuka.
Menggelar edukasi anti-bullying untuk seluruh siswa.
Dinas Pendidikan Karawang juga memastikan akan mengawasi proses investigasi dan memberikan pendampingan bagi korban, termasuk biaya pengobatan yang diperlukan.
Perundungan di Usia Dini Makin Mengkhawatirkan
Psikolog anak menilai kasus ini menunjukkan bahwa perundungan di jenjang sekolah dasar semakin sering dan perlu penanganan menyeluruh. Korban dapat mengalami dampak jangka panjang, baik secara fisik maupun mental.
“Bullying bukan sekadar bercanda. Efeknya bisa seumur hidup, terutama jika disertai kekerasan fisik,” ujar seorang psikolog pendidikan.
Kesimpulan
Kasus siswi SD di Karawang yang dibully hingga patah tulang menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. DPRD meminta sekolah meningkatkan pengawasan, sementara masyarakat mendesak agar SOP anti-bullying benar-benar diterapkan demi keselamatan siswa.
