Shoppe Mall
Shoppe Mall
Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Kisah Perempuan Pasar Seluma 15 Tahun Berjuang Mengusir Tambang Besi

Shoppe Mall

Kisah Perempuan Pasar Seluma: 15 Tahun Berjuang Usir Tambang Besi

Jangkauan jakarta barat — Kisah Perempuan Pasar Seluma Selama lebih dari satu dekade, perempuan-perempuan dari komunitas adat Serawai Pasar Seluma terus berjaga di kampung halaman mereka. Sejak 2010, mereka menolak keras aktivitas tambang pasir/ besi — memperjuangkan ekosistem pesisir, mata pencaharian, dan hak atas tanah adat mereka.

Kisah Perempuan Pasar Seluma IUP dan Ancaman Kehidupan Tradisional

Konflik bermula saat pemerintah kabupaten mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk perusahaan PT Faminglevto Bakti Abadi (PT FBA) di pesisir Desa Pasar Seluma — kawasan yang selama ini digunakan masyarakat untuk mencari remis, bercocok tanam, dan nelayan.

Shoppe Mall

Perempuan di komunitas itu tahu betul: tambang pasir besi tidak hanya mengancam laut dan pantai, tapi juga merusak lingkungan pesisir — yang menjadi tumpuan hidup generasi mereka. Ekosistem remis, laut, dan mangrove berisiko hilang; abrasi, pendangkalan laut, dan dampak sosial makin nyata.

Karenanya, ketika perusahaan mulai menunjukkan niatan operasi pada 2021, perempuan-pesisir ini menolak dengan gagah. Mereka memutuskan tidak ingin mengulang konflik lama — ketika laki-laki dulu memimpin protes dan banyak ditangkap. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara - AMAN | Kisah Perjuangan Perempuan Adat  Usir Tambang Pasir Besi di Bengkulu

Baca Juga: Misteri Kapal Flor de la Mar Angkut Harta Karun 60 Ton Emas Karam di Laut Sumatera

Perempuan Memimpin Perlawanan — dari Tenda hingga Mediasi ke Jakarta

Alih-alih mundur, perempuan Serawai Pasar Seluma mengambil alih tongkat perjuangan. Pada 2021, saat perusahaan mulai kembali mendekati lokasi tambang, lebih dari seratus perempuan setempat turun ke pantai, memasang tenda, dan bertahan di lokasi tambang sebagai bentuk penolakan. Mereka menyatakan: “Kami tidak butuh tambang.”

Malam menjadi saksi keteguhan mereka — meskipun diguyur hujan, diinterogasi polisi, bahkan ancaman kekerasan datang. Namun mereka tidak gentar: demi laut, laut yang memberi makan, laut yang menjaga warisan adat.

Pada kesempatan kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Bengkulu pada Juli 2023, perempuan dari Serawai Pasar Seluma — melewati barikade pengamanan — berhasil menyampaikan suara mereka langsung ke Presiden, meminta agar izin tambang dicabut dan nasib pesisir dilindungi.

Ancaman Tambang = Ancaman Untuk Hidup Bersama Laut

Bagi komunitas ini, laut bukan sekadar tempat cari nafkah — tapi warisan budaya: tempat penghidupan generasi, tempat cerita nenek-moyang. Tambang pasir besi berpotensi menghancurkan semua itu. Pasir besi, jika digali besar-besaran, akan mengubah alur sedimentasi, mengancam fauna laut, bahkan memperparah kerusakan pantai di daerah yang sudah rawan abrasi.

Perempuan di Pasar Seluma paham: jika tambang dijalankan, bukan hanya ekosistem rusak — tapi mata pencaharian nelayan, pencari remis, perempuan rumah tangga, dan anak-anak terancam ikut runtuh. Maka mereka bersikeras menolak.

Kisah Perempuan Pasar Seluma Suara dari Perempuan-Pekik Anti Tambang

Salah satu tokoh perjuangan, Zemi Tipantri — koordinator aksi perempuan — menegaskan bahwa mereka tidak akan rela hidup dengan pengrusakan:

Kami menolak. Tanpa tambang, hidup kami sudah sejahtera. Tambang hanya akan merusak desa kami.”

Sementara komunitas nelayan dan pekerja tradisional berkata bahwa mereka merasakan sudah cukup kehilangan — dari laut, dari lingkungan, dari warisan nenek moyang. Tambang bisa jadi titik kehancuran bagi mereka

 Konflik Kriminalisasi, dan Tuntutan Keadilan

Penolakan ini bukan tanpa risiko. Tiga di antaranya perempuan.

Komunitas juga melaporkan dampak negatif terhadap hak perempuan dan kehidupan sosial — karena konflik lahan dan tambang merusak tatanan hidup tradisional mereka.

Mereka minta negara hadir — bukan hanya izin tambang, tetapi pengakuan hak adat, perlindungan lingkungan, dan jaminan keadilan bagi masyarakat pesisir, terutama perempuan.

 15 Tahun dan Masih Berjuang: Butuh Komitmen Negara & Solidaritas

Kini, setelah sekitar 15 tahun—lebih dari satu generasi—perempuan Serawai Pasar Seluma masih berdiri teguh. Bagi mereka, penolakan tambang bukan aksi sesaat, melainkan perjuangan panjang untuk hak hidup, lingkungan, dan masa depan anak‑cucu.

Mereka menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya korban — tapi pelaku utama dalam mempertahankan ruang hidup dan keadilan lingkungan. Suara mereka mengajak kita menilai ulang: pembangunan seperti apa yang sebenarnya manusiawi? Tambang yang mengancam hidup atau keadilan untuk semua?

Shoppe Mall